H+30 Proses Melupakanmu

Ya, memang bukan salahmu kalau dia memilih untuk kembali kedalam pelukanmu. Ketika aku mampir melihat plurk mu, tempat kau berkoar koar. Kau memintaku untuk tidak sakit hati. Hey! perempuan mana yang tidak sakit hati setelah dikhianati. Sebegitu inginnya aku menahan semua ini, aku tak kan bisa, bodoh! Aku bukan dirimu, bukan yang pandai menutupi segalanya dengan kerudungmu. Ketika dia membuangmu dan memilihku, kau tentunya juga merasakan sakit hati kan? Haah! Tak mungkin kau tidak merasa sakit hati. Melihat bagaimana kau menyebutku sebagai perebut dan koar koaran mu di dalam dunia maya. Tatapan sinismu. Jelas sekali bahwa kala itu kau sakit hati, hatimu teramat sakit seperti yang saat ini kurasakan. 

 Awalnya dia memang milikmu, tapi biar kutegaskan! Dia dulu yang mulai mendekatiku! Aku sama sekali tidak merebut dirinya darimu. Jika kau sebegitu tidak inginnya dia untuk lepas darimu atau pergi meninggalkan dirimu. Mengapa kau tidak mengikatkan tali pengekang dilehernya saja? Dengan begitu, dia tak akan pernah lepas darimu bukan?
Aku tidak seperti dirimu, aku tak akan pernah berusaha mengejarnya setelah dia lepas dariku. Aku bukanlah wanita rendahan seperti dirimu yang akan mengejarnya dan mengganggu hubungannya. Jika dia memutuskan untuk pergi dariku, maka biarlah, pergilah, aku tak kan mencegahnya atau berusaha untuk membuatnya tetap tinggal disisiku--meskipun aku ingin. Tapi aku tak kan, aku bukan dirimu yang terus mengejarnya dan berusaha menarik perhatiannya setiap saat.

Ya, aku memang sakit hati. Mengapa? Mengapa kalian begitu tega terhadapku? Kau dan dirinya. Mengapa kalian mengulang kembali tragedi di masa lalu, tragedi yang masih menimbulkan sayatan lebar dan menganga dalam hatiku. Kau mengatakan aku merebutnya darimu. Aku tak pernah berbicara dengannya, sekalipun tak pernah. Aku tak merebutnya. Bukankah perebut itu seharusnya menjadi nama panggilanmu? Kala itu kau berkata kau sudah move-on darinya, namun apa kenyataanya? Kau masih mencoba menarik perhatiannya. Jika kau memang belum bisa move-on darinya, mengapa kau berkata bohong? Mengapa kau munafik dengan membohongi dirimu sendiri bahwa dalam sudut hatimu yang terdalam kau masih menginginkannya.
Jika kau sejak awal mengatakan bahwa kau masih mencintainya dan sangat sangat menginginkannya, aku dengan suka rela memberikannya padamu, agar aku tak perlu merasakan sakit seperti ini. Agar kalian tak perlu bersembunyi dan bercumbu dibelakangku.

Memangnya dia apa? Piala? Piala yang layak untuk diperebutkan, dimenangkan, dan dipajang dalam lemari kaca berbingkai emas?

Ya, aku memang masih menyukainya, sampai saat ini. Namun aku tak kan pernah sekali kali pun mencoba menghubunginya. Dia milikmu. Aku bukanlah tipe seorang wanita murahan yang akan merusak hubungan rumah tangga wanita lain hanya karena pria yang dicintainya. Ya, sait memang, disaat aku melihat tawanya yang tak lagi ditujukan untukku.
Namun, aku percaya, Allah pasti punya rencana lain untukku dan akan memberiku yang lebih baik, yang terbaik. Dan aku berjanji, aku akan dengan segera melupakannya.

Dia milikmu sekarang..
Nikmatilah apa yang telah kau perjuangkan
Mereka yang berjuang keras memang lebih layak untuk mendapatkannya

halinda saraswati

No comments:

Post a Comment